October 19, 2017

Jajanan Jalanan

Saya tidak suka nongkrong di cafe. Biasanya ribut dengan suara musik yang bikin susah ngobrol, penuh dengan asap rokok atau vape dan dilengkapi dengan sepaket anak nongkrong yang ketawanya lebih keras dari toa mesjid.

I was once an anak cafe. Ketika SMA. Nongkrong, ngopi, dan wifi-an gratis sampai sore. Tapi tetap tidak pakai asap rokok, tidak bikin keributan, tidak bikin kerusuhan, apalagi sampai bakar pondasi mesjid seperti kasus di Aceh kemarin ini *emosi kebawa-bawa*.

Sekarang, saya sangat menyukai street food. Mau makan apapun, street food dulu jadi prioritas. Kalau tidak ada, baru cari street food lain *halah*.

---

Kebiasaan ini ditularkan dari istri saya yang lebih senior dibidang street food-an. Jadi kemana-mana kami selalu cari makanan street food. Apalagi istri saya baru 10 bulan di Pekanbaru, jadi masih suka cari-cari yang enak dan rasanya unik.


Kalau untuk makan malam, favorit saya yang pertama itu adalah Mie Rebus. Karena nasi goreng di Pekanbaru agak aneh, karena dimasak sekaligus dalam porsi banyak (mungkin sekitar 40-50 porsi) dan diletak didalam termos. Jadi kalau kita pesan ga fresh from the frying pan. Jadi kalau mau yang panas, pilihannya ya mie goreng atau mie rebus.

Harganya mie rebus ini sekitar 10 - 13 ribuan, lebih murah dari harga di cafe, tapi rasanya lebih enak yang jelas. Ntah karena banyak micin atau emang chef-nya jago *ditoyor*. Nah ini namanya perhitungan.


Setelah makan mie rebus, pasti kurang lengkap tanpa dessert. Walaupun air putih hangat is the best dessert yah, tapi kurang lengkap tanpa dilengkapi dengan yang manis-manis sebagai pelengkap dosa. Biasanya saya cari pisang goreng crispy cokelat keju madu (panjang amat menunya), atau dengan es krim pokat kocok yang lagi nge-hits di Pekanbaru akhir-akhir ini. Atau simpel dengan minum jus.

Setelah minum atau makan yang manis-manis, biasanya mulut terkunci dan tidak mau nambah mie rebus lagi *halah*.


Jadi street food ini ga melulu ketika malam hari, tapi untuk siang hari juga lho. Walaupun kadang saya lebih suka nasi bungkus padang yang penuh dengan kuah cincang itu di siang hari. Kalau siang, memang pilihan street food ini lebih sedikit dibanding malam hari. Tapi biasasnya kalau siang hari, saya pilih makan batagor dengan es tebu sebagai temannya.

Jadi uniknya, ketika di Lampung, istri ga suka es tebu karena rasanya seperti jus rumput. Ketika di Pekanbaru, ketika duet dengan Batagor, jadi doyan es tebu dan tidak ada komentar jus rumput.

---

Emang street food ini bukan makanan tiap orang. Ada orang yang suka makan di cafe, tempat dan suasana nyaman, makanan enak dan harga agak mahal. Saya lebih prefer kesini ketika membawa keluarga besar atau ada event-event tertentu seperti baru gajian. Ga mungkin juga bawa keluarga besar makan di pinggir jalan yang ribut dengan kendaraan.

Tapi kalau untuk makan dengan istri, saya lebih prefer street food dengan segala kelemahan dan kelebihannya. Makanannya enak, harganya murah, lihat suasana jalan, hirup-hirup debu dikit, free air putih anget dan suasana yang berbaur bersama rakyat *halah*.

Walaupun saya tetap prefer makan di cafe, tapi saya tetap tidak prefer tempat makan yang ribut dengan suara musik dan penuh asap rokok. DIE!

Sekian dari saya, terima mie rebus cabenya dikit.